Sorogan, Metode Tradisional yang menjadi Trade Mark pesantren

Oleh: Roni Yusron Fauzi

Metode Pembelajaran adalah cara-cara yang harus ditempuh dalam kegiatan belajar mengajar antara murid dan guru untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Ada metode pembelajaran tradisional di pesantren yang sampai saat ini dipakai, yaitu SOROGAN.

Metode Sorogan merupakan kegiatan pembelajaran bagi para murid (baca: santri) yang lebih menitik beratkan pada kemampuan individu di bawah bimbingan seorang guru/ustad/kyai.

Metode pembelajaran ini termasuk metode pembelajaran yang sangat bermakna, karena murid akan merasakan hubungan yang khusus ketika berlangsung kegiatan pembacaan kitab oleh dirinya di hadapan guru. Mereka tidak saja dapat dibimbing dan diarahkan cara pembacaannya, tetapi juga dapat dievaluasi dan diketahui perkembangan kemampuannya.

Maka, dalam situasi demikian akan terciptanya komunikasi yang baik antara murid dengan guru. Sehingga dapat meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa murid ataupun guru itu sendiri.

Metode Sorogan sangat cocok untuk tingkat pemula. Namun, metode ini juga dapat diterapkan di tingkat lanjutan maupun tingkat yang lebih tinggi. Tentu dengan melakukan beberapa inovasi.

Untuk tingkat lanjutan, ada beberapa cara yang biasa dilakukan, diantaranya:

  • ¬†Murid mulai membaca apa yang akan dikaji.
  • Guru hanya mendengarkan dan memperhatikan kefasihan, ketepatan ucapan, nada dan intonasi bacaan.
  • Selanjutnya, guru menjelaskan apa yang terkandung dalam teks yang dibaca oleh murid.
  • Guru mempercayai kemampuan murid akan makna perkata atau perkalimat apa yang dibaca oleh murid, sehingga tak perlu mengulang lagi mengulang arti perkata seperti di tingkat awal.

Sementara Sorogan untuk tingkat tinggi, polanya hampir sama dengan tingkat lanjutan. Namun, di sini muridlah yang diminta menjelaskan sendiri apa yang dapat dipahaminya dari yang dibacanya. Pada tingkat ini biasanya guru secara khusus akan memberikan ijazah sebagai bentuk diperkenankannya sang murid untuk mengajarkan kepada orang lain.

***
Referensi buku: “Pola Pembelajaran di Pesantren”, terbitan Kemenag.

6 Responses to Sorogan, Metode Tradisional yang menjadi Trade Mark pesantren

  1. Mambay says:

    sudah menjadi fitrah dalam belajar untuk berhadapan degan guru langsung. karena memang dengan tatap muka seperti ini ilmu itu akan mudah ditransfer. bahkan di dalam dirosah islamiyah, pembelajaran tatap muka langsung / talaqi itu salah satu syrat seseorang bisa menjad mufti. karena jika da seseorang belajar hanya dari buku, walaupun dia paham dan mengerti dengan pa yg dipelajari, tetap saja namanya ilmu itu butuh penjelasan dari sang guru. mungkin karena itu juga kenapa hadist diturunkan dengan perawi-perawi terpercaya. *just myopinion (silahkan dikoreksi kalo ada yg salah pak guru :mrgreen:)

    B A L A S :
    Benar sekali apa kata Bang Mambay, apalagi dengan metode sorogan ini ikatan batin guru dan murid semakin kuat…

  2. mintarsih28 says:

    hampir mirip dengan model pembelajaran kepala bernomor/number head to gether pak roni. meski kerja kelompok, tiap anggota kelompok harus bisa mempresentasikan

    B A L A S :
    Benar Bu Min…

  3. Idah Ceris says:

    jadi ingat pas di pesantren. . .
    liat mba2 lagi sorogan sama bapak kyai. .. :)

    B A L A S :
    Mbak Idah, ikut sorogan juga nggak…?

  4. Jadi teringat masa kecil ketika saya belajar ngaji. Saya harus menunggu giliran menerima “layanan pembelajaran individual” dari ustadz saya.

    Terima kasih atas infonya dan selamat atas kehadiran tempat barunya ini. Semoga tetap fokus mengusung tema pendidikan.

    ==>>> Meskipun metode ini klasik, tapi masih asyik untuk dipakai.
    Terima kasih Pak Akhmad atas motivasinya.

  5. sukajiyah says:

    Kebetulan saya tidak pernah mengecap pendidikan di pesantren.
    Tetapi membaca tulisan di atas, jadi paham kenapa anak2 pesantren begitu mudah memahami suatu pelajaran. Tapi kalau diterapkan di sekolah umum bisa ndak ya? mengingat keterbatasan waktu dan guru pengajar di sekolah.

    ==>>> Metode ini bisa dipakai untuk sekolah umum, namun harus membutuhkan waktu yang cukup lama. Apalagi dengan jumlah murid yang banyak.

  6. Sodikin MS says:

    meskipun jadul, faktanya pembelajaran model begini berhasil melahirkn santri-santri hebat. kunci dari metode SOROGAN adalah kesabaran sang ustadz menghadapi perbedaan kemampuan masing-masing santri.

    ==>>> benar sekali, metode zaman dulu bukan berarti tidak terpakai lagi di era teknologi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>